Dahulu hiduplah seorang wanita dalam sebuah istana yang paling besar pada zamanya. Dia memiliki banyak pelayan perempuan dan pelayan laki-laki. Kehidupannya bergilamangan dengan kemewahan dan kesenangan. Sesungguhnya dia adalah Aisiah binti Muzahim. Istri raja Fir’aun. Dia adalah satu-satunya wanita, meskipun ditinjau dari fisiknya sebagai seorang wanita terlihat lemah, yang dapat hidup aman lagi tentram di dalam istananya, karena cahaya iman telah menembus dan menerangi kalbunya. Akan tetapi, masih belum puas dengan semuanya itu, maka dengan beraninya dia menentang realita arus jahiliyah yang dipimpin oleh suaminya sendiri.

Sesungguhnya dia adalah sosok wanita yang memiliki visi ke depan yang amat jauh hingga melampauiistana yang didiaminya, hamparan empuk yang dipijaknya, dan kehidupan yang berlimpah dengan kemewahan, dan juga melampaui semua pelayan perempuan dan laki-laki yang selalu siap melayani semua keperluannya.
Oleh karena itu, ia berhak diabadikan sebutannya oleh Allah Tuhan semesta alam dalam kitab-Nya yang terpelihara dan Dia menjadikannya sebagai teladan yang ideal bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang yang beriman ketika ia berkata: “Ya Tuhanku,bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim.” (QS. 66:11)

Ulama Tafsir sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan bahwa sesungguhnya Asiah lebih memprioritaskan tetangga (hidup di sisi Allah) sebelum rumah. Ia berhak untuk diletakkan oleh Rasulullah saw. dalam urutan wanita yang telah meraih kesempurnaan dalam hidupnya, melalui sabdanya yang mengatakan:
“Telah banyak dari kaum laki-laki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita, kecuali hanya Asiah istri Fir’aun dan Maryam binti ‘Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiah di atas kaum wanita sama halnya dengan keutamaan tsarid (bubur roti yang lezat lengkap dengan keju dll.) di atas makanan lainnya.”

inilah gambaran tentang Asiah yang beriman. Ia tak ubahnya bagaikan pelita yang menerangi kegelapan istana Fir’aun, lalu siapa lagi yang memberikan penerangan kepada kita dengan pelita yang memancarkan cahaya kesabaran, keteguhan hati, dan dakwah misi menyeru manusia untuk menyembah Allah swt.